Purwakarta Dini Hari

Langit redup masih saja menatapku ketika aku mulai turun dari kereta menuju pintu keluar. Stasiun Purwakarta menjadi destinasi sementara, hanya tempat transit yang tak begitu menarik. Dini hari ini kumpulan manusia yang hendak naik kereta duduk berjejeran di depan stasiun. Ada pula yang menggelar kardus dan sajadah sebagai alas untuk merebahkan badan.

Kini, stasiun dihuni oleh kumpulan manusia yang asyik dengan ponselnya. Sama sepertiku yang sedang menulis ini. Mereka tampak khusu' dengan apa yang dilihat dan didengar. Sayup-sayup terdengar percakapan dari para generasi boomer yang belum tahu betapa serunya bermain ponsel.

Di samping kanan, ada seorang pemuda yang diam. Di samping kiri, ada seorang yang meringkuk di atas sajadah. Pula ada dua pemuda yang sedang asyik mengobrol tentang berbagai hal. Tampak seru.

Purwakarta dini hari memang sepi. Hanya beberapa warung yang bertahan dan sisanya perlahan mulai membongkar dan mendorong gerobak jualan. Saat dini hari, Purwakarta menjadi kota sepi yang kadang dilalui dan dirayakan oleh muda mudi 'nakal' yang tak kunjung pulang. Roda dua tanpa spion mendominasi jajaran tempat parkir di satu warung kopi samping stasiun.

Stasiun ini berada di tempat strategis. Dekat wisata dan masjid. Cukup melangkahkan kaki beberapa menit untuk sampai ke dua tempat itu. Genangan air seusai hujan turut menghiasi perjalanan kakiku yang menyenangkan ini.

Perlahan, mataku semakin memaksa pejam. Hasrat untuk menulis Purwakarta Dini Hari pun semakin pudar. Kedipan mata yang semakin terjadi menandakan aku perlu mengakhiri ini. Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa