Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa
Sebagai
spesialis pengulang kata, tak ada sulitnya mengulang suatu kata setiap
hari. Sepele? Memang. Tapi saya sangsi
anda dapat melakukannya setiap hari. Diantara banyak kata yang muncul di
kehidupan, ada beberapa kata yang saya pakai hingga saat ini. Tiga kata yang
tersebut di judullah yang paling sering dipakai dan mempunyai latar belakang
yang woyo! (baca: keren!).
Woyo
Sekitar tahun 2013 saya mulai
mengistiqomahkan kata ini. Ya! Beberapa tahun sebelum Soimah memopulerkan lagu
woyo-woyo beliau dan sebelum adanya nama gerombolan woyo-nya Om Jeje. Dan saya
patut sombong akan hal itu. Haha!
Berawal saat periode 2012, dimana begitu maraknya genre reggae di kampung
halaman. Saat itu genre ini
hampir menguasai setiap acara musik yang ada di batang dan mungkin seluruh
Indonesia. Karena woyo begitu identik dengan reggae, setiap ada acara reggae
pasti di situ disebut kata woyo.
Dari sinilah saya pertama kali mendengar dan mengenal kata yang begitu saya
cintai ini. Terima kasih reggae! :v
Rasa jatuh hati dengan kata ini selalu
pasang meski
pengaruh reggae di batang sudah mulai surut.
Namanya
juga sudah cinta sih ya, mau bagaimana lagi. Barulah saya cari arti dari woyo
ini tapi tak saya temukan penjelasan apapun, hanya kata khas reggae saja
*beberapa menit yang lalu saya searching di gugel ternyata woyo itu singkatan
dari wo iyo. Setelah tujuh tahun ternyata itu to arti sebenarnya, saya
baru tahu! :3
Yak, kembali ke tahun 2013, di mana
saya akhirnya membuat sendiri arti dari woyo. Woyo adalah singkatan dari Wong
Young, Wong; Orang, Young; Muda, dan jika dimaklumkan menjadi Anak Muda. Sangat
absurd? Memang! Daripada tidak ada kandungan di dalamnya kan? Tapi definisi
Woyo saya tidak sesempit itu Sod, woyo juga sering diartikan sebagai sesuatu
hal yang keren. Tidak sebatas itu tok, tapi woyo bisa disisipkan saat
sodara sekalian mendengarkan lagu apapun dan di lirik itu kok pas diganti
dengan kata woyo, maka sodara berhak menggantinya! Tapi saya tidak mau tanggung
jawab kalau ada pencipta lagu yang protes ya :v.
Contohnya
nih
Balonku
ada woyo
Rupa-rupa
warnanyo
Merah
kuning woyo
…..
Meletus
balon woyo dor
Hatiku
sangat woyo
…..
Tujuannya? Agar sodara sekalian
tidak merasa bosan dengan kehidupan di dunia ini (tidak nyambung? Maklumi saja
ya).
Semangat-Semangat
Setelah menjalani separo kehidupan
di Jogja, lama kelemaan saya mulai menyadari betapa berpengaruhnya semangat.
Semangat yang membara memberi kekuatan lebih. Seorang yang mempunyai skill
pas-pasan bisa mengalahkan seorang yang pas-pasan tapi lebih pas-pasan orang
pertama tadi. Kenapa? Faktor semangat yang menentukannya. Pernah ada seorang
bapak-bapak berkata pada saya saat pertandingan tenis meja antara saya dan
lawan usai:
“Dia memiliki skill yang lebih,
tapi semangatmulah yang mengalahkannya.”
(Demi konsumsi pembaca agaknya kata-katanya saya modif dari yang asli keluar dari mulut bapak itu, tapi maknanya sama kok. Ben opo? Ben ketok ngeri.)
(Demi konsumsi pembaca agaknya kata-katanya saya modif dari yang asli keluar dari mulut bapak itu, tapi maknanya sama kok. Ben opo? Ben ketok ngeri.)
Suatu pujian bagi saya yang bermain
dengan penuh semangat & gembira dan suatu kesombongan bagi saya pula sudah
menuliskannya di sini. Ya gapapa.
Berawal dari situlah saya mulai
membiasakan diri untuk menyemangati kawan-kawan. Entah sudah berapa banyak yang
saya semangati dan mungkin hampir semua kawan masa Aliyah (baca:
SMA) pernah
saya semangati. Hingga pada akhirnya kata Semangat-Semangat identik dengan
saya. Kenapa harus dua kali? Faktor penguatlah yang menuntun saya untuk
mengucapkannya dua kali. Ya! Dengan dengan mengucapkannya dua kali maka seorang
yang disemangati akan lebih semangat. Tidak percaya? Ya gapapa.
Sebagian kawan mungkin bosan
mendengarkan kata ini. Tapi perlu diingat sod, kalian yang dulu biasa saya
semangati pasti kangen dengan ucapan semangat yang khas keluar dari mulut
seorang woyo ini. Tidak percaya? Ya gapapa.
Ben
Ketok Ngeri
Tahun terakhir di jogja membuat
diri ini semakin merasa butuh akan eksistensi. Eksistensi untuk dikenal,
dikagumi, dan dipuja. Sebagian orang memandang buruk. Memang buruk, tapi hal
tersebut tak bisa dipungkiri adanya. Sejak menyadari kebutuhan eksistensi, saya
jadi sering mengatakan ben ketok ngeri. Dari mana asalnya? Sayapun lupa,
kemungkinan besar berasal dari cletukan tak sengaja seorang woyo ini, lalu
disebut-sebut terus, sehingga selalu terngiang-ngianglah kata-kata ini di
kepala saya.
Apa hubungan
eksistensi dengan ben ketok ngeri? Kebetulan, akhir-akhir ini saya semakin
menyadari bahwa kata-kata ini bisa dijadikan filosofi hidup. Maka dari itu, saya
akan jabarkan di postingan selanjutnya saja. Selamat menantikan!

Komentar
Posting Komentar