Kesendirian
Kini aku telah menemukan teman akrabku. Ia bernama kesendirian. Ia ada ketika semua orang di sekitar tak mampu memahamiku. Dia adalah sebenar-benarnya teman. Teman yang selalu menemani di titik rendah dalam hidup.
Meski kedatangannya selalu kuhindari, tapi ia tetap turut serta menyertai. Untungnya dia bukan manusia sepertiku dan seperti yang lain karena manusia begitu menyebalkan. Termasuk aku.
Sama ketika setan benci akan takdirnya, aku pun benci akan takdir yang menuntutku bersama kesendirian.
Mengapa? Meski ia setia menemani, tapi ia tak mampu membawaku ke arah yang 'lebih baik' dari versiku saat ini. Ia seakan tak ingin meninggalkanku meski aku senantiasa meninggalkannya.
Komentar
Posting Komentar