Cinta dan Komitmen

Bagiku dan mungkin bagi setiap manusia, kata cinta merupakan kata yang paling luhur yang pernah diciptakan manusia. Manusia dengan aspek cintanya dapat hidup berdampingan dengan siapapun dan berbagi kebahagiaan dengan sesama makhluk. 

Namun, bagiku makna cinta akan tereduksi saat kita memaknainya hanya untuk individu tertentu. Cinta menjelma hasrat yang dijadikan modal bagi para pembual untuk menyatakan perasaannya terhadap orang yang saat itu hendak dikenal lebih dalam. Lalu setelah hasratnya habis, ia mulai bosan dan mencari individu lain lagi. 

"Habis manis, sepah dibuang". 

Cinta bak perasaan lapar yang menghantui manusia di kala dirinya berhasrat untuk makan, lalu setelah kenyang, rasa lapar itu kembali sirna.

Lantas mengapa banyak orang yang memutuskan untuk menikah? Itu karena komitmen. Ya, menikah bagiku adalah komitmen bersama untuk hidup dan membangun sebuah keluarga.

Mungkin bagi mayoritas orang pandanganku terlalu naif. 

Ada dua kemungkinan dari pandanganku itu. Satu, pandanganku salah karena aku yang belum menemukan apa yang disebut orang-orang sebagai "cinta sejati". Dua, pandanganku benar, tapi mayoritas manusia menyangkal itu.

Karena hingga saat ini, aku masih percaya bahwa tak ada cinta abadi untuk satu individu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa