Keresahan kala Mengikuti Sosialisasi "Bela Negara" oleh TNI AU
Pagi tadi saya meringankan langkah kaki ini ke pendopo untuk mengikuti sosialisasi "bela negara" oleh TNI AU.
Saat sambutan pembukaan, aparat menyinggung sedikit mengenai bahaya laten komunis. Ah, secepat ini telinga saya dibuat gatal olehnya. Saya baru sadar, dari pernyataan sambutan tersebut menyiratkan bahwa percakapan fiksi seperti:
"Aku komunis."
"Maka kamu wajib dibunuh."
menjadi fiksi paling realistis untuk saat ini. Gila!
Kegilaan berlanjut tatkala materi yang disampaikan menyinggung "aksi" yang dihubungkan dengan lunturnya nasionalisme. Ah, bualan para orang tua memang nggak ada yang menarik.
Apalagi saat Ibu-ibu TNI AU memberikan materi mengenai bela negara. Ia selalu menyinggung masyakarat (khususnya pelajar) yang tak mengindahkan Pancasila dengan tawuran, narkoba, sex bebas, dan sebagainya.
Ia tak memandang sisi yang paling buruk dari kehidupan berbangsa dan bernegara bahwa para pemangku kebijakan sungguh benar-benar sangat tidak pancasilais. Lalu buat apa pancasila masih diucapkan berbusa-busa setiap upacara? Jawabannya hanya satu: harapan yang memang akan selalu menjadi do'a para kaum papa.
Komentar
Posting Komentar