Semesta pun Mengingatkan

 Sore ini angin, hujan, guntur dan petir lahir dari pagi yang berawan. Mereka seakan mengabarkan apa yang kulupa: keadaan dapat berubah tanpa kita duga. Ia datang lalu mengubah segalanya. Seperti pandemi yang telah menginjak usia dua tahun ini. 

Apa-apa yang kujalani dan kurencanakan dengan sedetail itu bisa dengan gampang berubah. Selama dua tahun pandemi, aku mulai lupa akan keniscayaan itu. Tapi sore ini aku kembali digugah.

Deru angin kencang, air menghujani tanah, guntur bergemuruh, dan petir kencang menyambut gemuruh itu. Kutatap awan kelabu sore ini dan dengan penuh yakin, semua ini akan berganti. Takdir berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Pada akhirnya aku cukup yakin akan hidup yang kujalani.

Aku hanya perlu menghidupi hidup, apa pun masalah yang akan kujumpa. Pedih ketika bertemu buntu, sunyi tatkala berjumpa sepi. Tapi aku hanya perlu hidup hingga Sang Kuasa mengirimkan pesan bahwa kehidupanku sudah cukup apik untuk dijalani dan menyuruhku untuk kembali kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa