Memadu Kasih dengan Sore
Kunikmati suasana sore ini dengan guratan cahaya tenang menyinari setiap jengkal kehidupan. Rupanya inilah jawaban dari sore setelah ia meminang air dari langit pada hari-hari yang silam. Ia tampak murung kepada semesta yang akhir-akhir ini mengalamatkan kesialan kepadanya.
Menurutku, ia layak gusar pada semesta yang karenaya ia mungkin dicari oleh ratusan ribu manusia. Namun, di sore ini, di suasana yang begitu renyah untuk berbincang dengan sore, aku memutuskan mengabadikan ini dalam sebuah untaian kata sederhana.
Anggap saja ini sebuah perayaan dariku untuk sore yang tampak manis. Ia pasti tersenyum. Atau jangan-jangan tersipu malu karena akan abadi. Setidaknya jika tak ada manusia iseng menghapus tulisan ini dari dunia. Tapi itu tidak mungkin. Orang bodoh macam apa yang sudi bercanda dengan menghapus kata-kata?
Hai sore, aku memujamu di saat beberapa orang tak memperdulikanmu. Tapi bukankah lebih baik seperti itu? Kau dan aku bisa saling memuja, berbincang, dan saling memahami satu sama lain. Aku ditemani gelas berisi air garam dan kau didampingi semburat cahaya kekuning-kuningan.
Aku duduk menikmatimu. Kau tenang memandangku. Sekali-kali kau merayuku dengan angin sepoi yang menyentuh kulitku secara halus. Seakan kau sedang berbisik bahwa hari ini adalah hari keberuntungan kita. Meski kita tahu, waktu akan menyetir kita dengan pelan menuju masa depan yang rahasia. Bedanya hanya satu. Kau hilang sementara, sedang aku akan hilang selamanya.
Kosan Transformasi, 16 Maret 2022 pukul 17.15 Waktu Indonesia Sore.

Komentar
Posting Komentar