Peristiwa Subuh
Senyum sumringah menghiasi subuhku hari ini. Bak digeplok uang seplastik, mulutku tak henti-hentinya menyinarkan kebahagiaan. Meski bangkit adalah kesusahan yang nyata, pada akhirnya aku mengalahkan kesusahan itu dengan penuh perkasa.
Selepas bangkit, aku beranjak ke kamar mandi dengan senyum yang masih melekat di wajah ini. Kutatap diriku di suatu cermin dan cermin menyapaku dengan senyumku yang istimewa. Aku ambil air, aku menghadap Tuhan, dan aku tersenyum.
Nampaknya ini suatu hal yang wajar untuk diriku. Setelah sepekan lebih di kota ini, baru pagi ini aku bisa mencicipi indahnya mentari saat terbit. Senandung kicau burung dan bengok ayam mengindahkan pendengaranku.
Hasrat untuk menyapa rerumputan di jalanan nampaknya tak menemukan titik terang. Aku mulai bergumul dengan tusukan dingin. Dingin ini benar-benar memelukku. Aku kalah. Aku lebih memilih mengabadikan momen sumringah ini lewat goresan tinta digital.
Aku meringkuk di kamar. Berselimut suka. Berbantal duka. Menggenggam gawai yang tak pernah usai digenggam. Aku mengeja tanya. Garitan apalagi yang hendak aku tuai. Pada detik yang dekat, aku memilih rehat.
Komentar
Posting Komentar