Jika Tak Mengenal Stand Up Comedy, Mungkin Saya Tak Memilih Jogja


2015, tahun di mana saya berhadapan dengan sebuah pilihan. Pilihan yang ternyata turut mengubah kehidupan saya hingga kini.

Masa sekolah menengah pertama merupakan masa pertumbuhan yang asik. Kami belajar, bergurau layaknya siswa yang merasa agak dewasa karena sudah tak lagi dicap anak SD. Mengenakan baju OSIS berbalut celana biru dongker merupakan kebanggaan hakiki. Itu semacam penegasan: "Aku benar-benar bukan anak SD lagi!".

Saya bersekolah di SMP favorit kedua di kecamatan Batang. Sekolah yang ramai riuh suara kendaraan, kebisingan klakson, dan getaran jendela sebab truk yang tiap kali lewat. Ya, sekolah saya berada tepat di samping jalan pantura. Jalan utama dari barat ke timur atau sebaliknya.

Suasana di depan gerbang yang penuh polusi tampak kontras dengan apa yang ada di belakang sekolah. Sebuah hamparan luas yang biasa kami sebut "Lapangan Kebon Rojo" berikut sawah-sawah di sampingnya.

Salah satu hal spesial dari SMP N 1 Batang ini adalah muridnya yang berasal dari berbagai kecamatan. Jangkauan relasi saya yang semula hanya antar kelurahan, kini meluas antar kecamatan. Hal yang cukup saya banggakan waktu itu.

Tak bisa dipungkiri, berbagai hal yang terjadi semasa SMP begitu terkenang hingga kini. Kenangan itu memaksa merangsek masuk dan sering kali mengajak saya bernostalgia dengan itu. Kenakalan bocah SMP, pertemanan yang kadang renggang karena hal sepele, dan bertemu cinta pertama (baca: berpacaran) meski sering disandingkan dengan kata monyet atas ketidakseriusannya. Semua itu sangat membekas dalam diri saya. Serius.

Sebagai bocah SMP, saya juga sudah mulai untuk menemukan dan menentukan hal yang saya sukai. Soal bola, Manchester City adalah kebanggaan. Lihat saja status Facebook saya semasa SMP. Penuh hal tentang tim dari inggris itu. Sampai-sampai saya disebut sebagai komentator sepak bola jalur Facebook. Soal musik, band-band Punk lokal selalu menghiasi telinga saya. Soal hiburan? Stand Up Comedy menjadi pilihan saya.

2014 adalah waktu saat saya berjumpa dengan komedi tunggal ini. Saat itu program Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV memasuki musim keempat. Komedi-komedi waktu itu terasa begitu ngena untuk saya, sampai-sampai hampir setiap siang saya nonton SUCI 4 via Youtube. Hifdzi dan Dzawin adalah dua kontestan andalan saya. Hifdzi dengan jokes anehnya dan Dzawin dengan isu pondok pesantren yang asik.

SUCI 4 berakhir dengan Hifdzi gugur di lima besar dan Dzawin callback lalu berhasil jadi juara tiga. Selepas SUCI 4 usai, saya berkeinginan untuk menonton langsung pertunjukkan stand up. Tuhan menjawab dengan adanya Stand Up Nite yang diadakan Stand Up Indo Pekalongan. Waktu itu Guest Star-nya Dodit Mulyanto, yang memang sedang viral-viralnya di jagad per-Stand Up-an selepas SUCI 4 berakhir.

Sayangnya entah kenapa saya tidak berkesempatan untuk hadir. Tetapi Tuhan memberi kesempatan lain. Stand Up Indo Pekalongan kembali mengadakan pertunjukan Stand Up Comedy bertajuk Jum’at Kumat. Dzawin dan Mongol Stress jadi GS-nya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, menjelang hari akhir Pre-Sale saya memutuskan untuk membeli tiketnya. Sayang, tiket yang biasa sudah ludes. Akhirnya saya beli tike VIP seharga Rp50.000.

Event itu sangat berkesan bagi saya. Mungkin karena event itu juga saya semakin yakin untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Pengaruh Dzawin benar-benar menyihir!

Stand Up benar-benar membekas dalam diri saya. Waktu itu pun saya memiliki cita-cita untuk bisa open mic dan harapannya bisa jadi Stand Up Comedian. Namun cita-cita itu terhadang tembok yang bernama keminderan.

Meski minder, saya tetap getol untuk mewujudkan cita-cita itu. Dan saya berkeyakinan bahwa dengan merantaulah saya bisa merealisasikannya. Waktu itu bertepatan juga untuk mulai memilih di mana saya akan melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.

Dari Hifdzi yang mengembangkan stand up nya lewat komunitas Stand Up Indo Jogja, saya memiliki pandangan untuk lanjut ke sana. Tentunya bukan karena itu saja saya memilih kota pelajar tersebut. Ada alasan lain, salah satunya adalah kenyataan bahwa band-band Punk yang lagunya sering saya dengar berasal dari Jogja.

Nampaknya pengaruh Dzawin dengan Pondok Pesantrennya dan Hifdzi dengan komunitas Stand Up Indo Jogjanya berhasil menuntun saya untuk mondok dan bersekolah di Jogja.

Namun, pada akhirnya cita-cita saya untuk ikut komunitas Stand Up Indo Jogja dan menjadi seorang pelawak tunggal teralihkan dengan rutinitas hidup di sana. Meski begitu, saya tetap menikmati gaya lawakan Stand Up hingga kini.

Pengaruh Stand Up dalam hidup saya tetap mengalir selama berada di Jogja. Saat ada teman yang menjadi Stand Up Comedian pun saya mendukung dirinya dengan menonton open mic dan perlombaan yang dia ikuti.

Hingga kini saya tetap berterima kasih untuk Dzawin dan Hifdzi yang turut serta menjadikan saya berkesempatan hidup di Jogja dan tinggal di sana selama empat tahun lamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa