Refleksi Kematian

Kematian bagi saya adalah sesuatu yang jauh di kehidupan, tetapi dekat di pikiran. Disebut jauh di kehidupan karena saat menjalani kehidupan duniawi, saya jarang merasakan akan mati hari itu. Tetapi saat ada momen sepi dan sendiri, pikiran akan kematian terkadang muncul. Saya sering bertanya pada diri saya kapan saya akan mati, di mana saya akan mati, sudah siapkah saya mati dan sebagainya. Betapa misteriusnya kematian ini -pikir saya. 

Saya selalu yakin bahwa kematian di dunia hanyalah perpindahan alam untuk manusia saja. Yaitu dari alam dunia ke alam kubur yang entah bagaimana bentuknya. Meski raga terbujur kaku di liang lahat, jiwa kita akan senantiasa hidup dan abadi dan tempat terakhir untuk jiwa yang abadi itu adalah akhirat. Kita akan terus hidup, hidup, dan hidup di akhirat. Itulah yang terkadang saya khawatirkan karena kita tidak akan lenyap dan menjalani kehidupan di akhirat selama lamanya.

Saat melihat atau mendengar kematian yang dialami seseorang, ada rasa yang kontradiktif yaitu kesedihan dan kebahagiaan. Kesedihan karena ia (orang mati) memiliki berbagai penyesalan saat hidup dan meninggalkan orang terkasih di dunia. Sedangkan kebahagiaan karena ia telah terbebas dari belenggu dunia yang tidak adil ini.

Beberapa hari yang lalu saya baru melihat kecelakaan yang dialami anak kecil yang membawa motor dan ia meninggal di tempat. Saat menyaksikan kejadian itu, saya menjadi agak pesimis untuk hidup sampai standar usia manusia yaitu 60 tahun. Kematian begitu dekat, dekat sekali. Namun setelah menjalani kehidupan duniawi lagi, pikiran kematian tampak tersisihkan dari pikiran. Terasa jauh, jauh sekali. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa