Peranan Esensi Budaya Sorogan, Bandongan, dan Ro’an di Tengah Pandemi Demi Terwujudnya Ukhuwah Basyariyah

            Hakikat dari setiap hal selalu ada jika seorang mau mendalaminya. Tak terkecuali hakikat atau esensi budaya pesantren. Sejak dulu budaya pesantren begitu melekat dan esensi yang dibawa selalu tertanam dalam diri seorang santri. Sorogan, bandongan, dan ro’an adalah sebagian budaya yang hingga kini masih dipertahankan. Ketiga budaya ini hampir selalu dipraktikkan dalam kehidupan pesantren sehari-hari, khususnya pesantren di daerah Jawa.

Jika kita menelaah jauh tentang ketiga budaya tersebut, maka kita bisa tahu bahwa esensi yang terkandung sangatlah dalam. Ini menunjukkan bahwa budaya tak hanya sebagai rutinitas belaka, lebih dari itu memberikan tuntunan praktik hidup bagi kita semua. Praktik hidup ini bukan tidak mungkin dimiliki oleh setiap orang, malah dirasa sangatlah relevan dengan kondisi yang sedang kita alami.

Sejak awal tahun ini, kita sebagai umat manusia diuji oleh Allah dengan makhluk kecil-Nya bernama virus covid-19 atau sering kita sebut dengan virus korona. Awal maret pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa dua orang WNI positif korona. Artinya virus ini sudah mulai menyebar di tanah air kita khususnya daerah ibu kota. Hingga esai ini ditulis kasus korona telah menyebar di berbagai provinsi. Kasus positif korona mencapai angka belasan ribu dan total meninggal hampir menyentuh angka seribu.

Setiap hari berita muncul dari berbagai media massa. Baik itu koran, radio, maupun situs website online. Media sosial seperti Facebook , twitter, instagram, dan whatsapp turut berperan lebih aktif. Media telah mampu menyihir masyarakat Indonesia betapa berbahayanya virus ini dalam waktu yang relatif singkat. Dalam waktu yang relatif singkat pula pola hidup bersih yang sedari dulu digaung-gaungkan sekarang mendapat tempatnya di masyarakat.

Peran media begitu besar di era ini. Tanpa disadari oleh sebagian masyarakat, informasi yang terus menerus diterima akan membuat seorang menjadi terlalu khawatir dan takut. Tak banyak yang tahu bahwa stres yang diakibatkan terlalu khawatir dan takut bisa mempengaruhi kondisi  psikis seseorang. Dalam dunia psikologi hal semacam ini dinamakan psikosomatis. Singkatnya psikosomatis adalah penyakit yang timbul karena dipengaruhi oleh pikiran.

Masyarakat dihimbau oleh pemerintah agar tidak terlalu khawatir selama masyarakat mematuhi saran dari para dokter dan ahli. Mulai dari hal terkecil seperti membiasakan diri mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan hingga menjaga jarak satu sama lain atau istilahnya psycal distancing. Peran aktif masyarakat saat ini sangat dibutuhkan demi pencegahan tersebarnya covid-19.

Selain dampak individu seperti yang disebutkan di atas, dampak sosial lebih kompleks. Himbauan di rumah saja, kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), larangan mudik, sekolah atau kuliah online, dan PHK di berbagai tempat merupakan sebagian dari dampak sosial yang terjadi. Dampak ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Khususnya kalangan menengah ke bawah.

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang terjadi sekarang bukanlah ha yang biasa. Upaya pemerintah memberi alternatif seperti kartu prakerja dan bantuan langsung pun dinilai kurang efektif oleh sementara pihak. Kini saatnya masyarakat turut aktif membantu pemerintah dengan memupupuk kembali  semangat ukhuwah atau persaudaraan. Dengan semangat persaudaraan ditambah proses penyesuaian diri dengan lingkungan, kita bisa melalui pagebluk ini.

Dulu KH Achmad Siqiq, mantan Rais Am Syuriah NU (1984-1991) pernah merumuskan tiga jenis ukhuwah. Ukhuwah Islamiyah yang berarti seluruh umat muslim bersaudara, Ukhuwah Wathaniyah yang menjadikan kita mempunyai rasa persaudaraan sesama bangsa, dan yang paling luhur dari semuanya adalah Ukhuwah Basyariyah. Ukhuwah Basyariyah mengajarkan kita untuk menanggalkan segala “atribut”; suku, agama, ras, golongan, strata sosial, maupun negara. Kemudian kita diarahkan kembali pada dasar kehidupan bahwa sejatinya kita ini manusia. Kini ketiga rumusan jenis ukhuwah ini tampak relevan di tengah pandemi, khususnya Ukhuwah Basyariyah.

Ukhuwah basayriyah sangat dibutuhkan di saat seperti ini. Saatnya kadar kemanusiaan diri kita diuji. Allah menciptakan manusia dengan pelbagai macam perbedaan dan salah satu tujuannya adalah untuk mengajarkan kita bahwa perbedaan itu nyata tapi bukan untuk dibeda-bedakan. Perbedaan ada untuk mendidik kita hidup harmoni berdampingan di tengah perbedaan. Sebab Allah bukan hanya menciptakan manusia melainkan Allah menciptakan manusia beserta kemanusiaannya.

Solusi yang ditawarkan oleh berbagai pihak dalam menyikapi keadaan ini sangat beragam. Di tengah keragaman ini, saya mencoba merangkum hampir semua solusi yang ada. Rangkuman ini diambil dari esensi tiga budaya pesantren yang telah di sebutkan di awal; sorogan, bandongan, dan ro’an.

Di pesantren tradisional atau semi tradisional khususnya pesantren daerah jawa memiliki budaya yang sangat khas. Salah satu pondok pesantren yang masih melestarikan budaya ini adalah Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Meski pesantren yang terletak di perbatasan antara kota Jogja dengan kabupaten Bantul ini sudah menerapkan pembelajaran formal baik tingkat MTs maupun Aliyah, namun dalam prakteknya kegiatan di asrama masih menjaga keotentikan budaya yang sedari dulu sudah ada.

Sorogan

Setiap malam selain malam jum’at para santri menyiapkan kitab kuning yang hendak dibaca di hadapan gurunya dengan berbagai persiapan; menulis, memahami, mendalami makna bacaan yang akan disetorkan. Kemudian setelah subuh para santri membacakan hasil persiapannya semalam kepada gurunya agar dapat mengetahui kebenaran. Begitulah gambaran singkat mengenai budaya metode mengaji secara sorogan.

Melalui budaya sorogan ini kita bisa belajar disiplin diri. Ya, rangkuman pertama dari berbagai solusi itu bisa kita istilahkan dengan disiplin diri. Disiplin diri seperti ini sangat diperlukan di tengah pandemi yang entah kapan usainya dengan rutin mencuci tangan, menggunakan masker setiap bepergian, menjaga jarak antar sesama, dan isolasi diri saat pulang kampung  demi mencegah penyebaran.

Konfirmasi akan kebenaran kepada yang lebih tahu juga diperlukan saat di berbagai media sekarang ini mengabarkan berita-berita yang belum tentu valid adanya. Karena berita palsu atau sering kita sebut dengan hoaks dapat berpengaruh negatif terhadap kondisi kejiwaan seorang. Efek psikosomatis pun mengakibatkan imunnya turun. Pada akhirnya virus dengan mudah dapat masuk ke tubuh. Dengan menanyakan kebenaran berita kepada seorang yang memang kompeten dalam bidangnya maka kita dapat mencegah penyebaran berita hoaks. Sehingga penyebaran berita palsu ini dapat dicegah seiring dengan pencegahan penyebaran virus.

Bandongan

Setelah salat maghrib para santri bergegas menuju mushola untuk mengikuti pengajian kitab kuning yang dibimbing langsung oleh guru. Guru memaknai satu per satu kalimah dengan bahasa jawa pegon lalu menjelaskan makna kitab kuning yang dikaji. Setelah usai, biasanya ada beberapa santri yang ketinggalan untuk megoni atau memaknai kitab dengan arab pegon. Saling melengkapi satu sama lain adalah kuncinya. Kemudian berdiskusi tentang tema yang dibahas menjadi tambahan tersendiri bagi sebagian santri. Seperti itulah uraian secara singkat budaya metode mengaji secara bandongan.

Budaya bandogan mengajarkan kita untuk disiplin bersama. Bisa diistilahkan dengan disiplin kolektif. Disiplin kolektif inilah merupakan rangkuman kedua dari solusi yang ada. Penyemprotan disinfektan secara berkala di tempat umum, menghindari kerumunan, dan saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan adalah sebagian dari disiplin kolektif.

Dalam menyikapi dampak ekonomi dari pandemi ini, peran saling bantu membantu juga sangat diperlukan. Masyarakat indonesia dikenal sebagai masyarakat dermawan, maka diterapkannya konsep rakyat bantu rakyat sangat relevan sekali. Saat yang tepat untuk saling berbagi dan bantu kepada sesama. Inilah salah satu alasan kenapa ukhuwah basyariyah sangat relevan dengan kondisi saat ini, seperti yang disebutkan di atas.

Ro’an

Setiap hari di bilik kamar ditetapkan adanya jadwal piket demi terjaganya kebersihan kamar. Begitu pula setiap jum’at diadakan bersih-bersih bersama yang lingkupnya satu asrama. Ada lagi bebersih bulanan dan tahunan yang tentu lingkupnya lebih besar lagi. Mengapa kalangan pesantren menerapkan budaya ini? Sebab kebersihan adalah salah satu elemen penting yang ditekankan dalam agama. Budaya seperti inilah yang disebut ro’an.

Budaya terakhir ini dirasa sangat vital adanya. Karena sebelum adanya pandemi, masyarakat Indonesia cenderung mengabaikan pola hidup bersih. Maka dari itu, Allah menegur kita sebagai umat manusia agar tidak mengabaikan kebersihan lingkungan yang telah Allah ciptakan untuk kita tinggali. Setelah disadarkan Allah lewat pandemi ini, saatnya kita sebagai khalifah di muka bumi ini dengan semangat ukhuwah basyariyah untuk senantiasa istiqomah atau konsisten dalam menjaga lingkungan. Inilah esensi utama dari budaya ro’an yang juga merupakan rangkuman terakhir dari berbagai solusi yang ditawarkan.

Dari semua rangkuman di atas; disiplin diri, disiplin kolektif, dan konsisten menjaga lingkungan, adaptasi adalah istilah yang paling tepat. Karena kalaupun virus ini memang tak bisa hilang dari kehidupan kita, maka sudah saatnya kita ubah persepsi kita tentang makhluk ciptaan Allah ini. Saatnya kita beradaptasi dengan dengan lingkungan baru bersama virus korona. Sebagai seorang muslim, saatnya kita memohon kepada Allah agar dapat hidup berdampingan bersama makhluk kecil ini dengan melakukan ikhtiar. Esensi dari ketiga budaya di atas merupakan contoh ikhtiar yang nyata dilakukan bagi setiap orang.

Mengutip dari tulisan Gus Dur, beliau pernah berpesan: “Marilah kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, saling mengerti, dan saling menghidupi. Karena persaudaraan kemanusiaan merupakan puncak dari persaudaraan yang akan memperkokoh persatuan kebangsaan dan persatuan keislaman.” Melalui pandemi inilah kita diberi kesempatan oleh Allah untuk mewujudkan persaudaraan kemanusiaan atau Ukhuwah Basyariyah yang sedari dulu diabaikan oleh sebagian orang. Semoga pesan Gus Dur yang mulia ini dapat kita wujudkan demi dunia yang lebih baik.

Batang, 12 Mei 2020 
Buah karya esai yang pertama dari seorang Woyo

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa