Membaca Tanpa Buku: Sebuah Perjalanan Singkat
Sore itu kuberada
di bawah sinar mentari yang tak meneyengat. Kukayuh sepeda jepang milik mamak
–panggilanku kepada Ibu, menuju rumah simbah aka nenek. Rumah simbah
juga ditinggali om yang mempunyai sepeda keren, nah diri ini berencana
meminjamnya.
Selama
ramadan, baru dua kali ini waktu sore kupergunakan untuk bersepeda ria dengan
sepeda keren. Suasana khas ramadan tampak begitu terasa. Para pedagang
menjajakan jualannya di pinggir jalan. Masyarakat berlalu lalang mencari
takjil.
Hanya
perlu lima menit untuk sampai di rumah simbah. Kupinjam sepeda lalu langsung aku
gas saja meski tak ada gasnya. Dengan sepatu ventela biru custom indie
dan masker tentunya, kugenjot sepeda keren ini menuju tak terbatas tapi tak
bisa melampauinya.
Di menit
awal, tiba-tiba ada suara seorang putri menyapaku, “Zhur!” Dengan keponya, aku pun
memutar kepala ke kiri dan sayangnya kutak bisa mengenali siapa ia gerangan
sebab masker yang ia kenakan. Begitu ramahnya warga batang ya.
Lanjut
fokus ke perjalanan. Sekitar sepuluh menitan di jalan, aku baru dihadapkan
dengan tanjakan yang memanjang. Dengan penuh zemangadh, kukayuh sepeda
keren ini demi kesehatan yang haqq. Nahas, kuletih di tengah perjalanan.
Tapi itu tak menyurutkan tekadku untuk mengayuh dan mengayuh.
Tibalah
aku di pertigaan kantor apa itu lah ya. Kayaknya kantor keluranan pasekaran. Kubelokkan
saja kemudi sepeda ke kanan. Perjalanan terasa sejuk saat tiba di jalan semundu
tapi gak masuk. Temurunan pun begitu nyesss dengan semilir angin sepoy
woyo.
Temurunan
kembali menyertai diriku yang sudah gak letih-letih amat ini. Dibalut dengan
bau sampah saat melewati tumpukan sampah yang berceceran. “Hidungku berfungsi!”
gumamku dalam sanubari. Sampah ini menyelamatkanku dari kelupaan bersyukur atas
nikmat-Nya.
Tak
terasa ternyata waktu maghrib telah tiba, tapi ku masih tiga per empat perjalanan.
Dengan santaynya kubatalkan puasa dengan air murni dari proses
pencernaan (baca: ludah). Rasa segar nan hambar kutelan bersama kenangan yang
tak terlalu manis di waktu bersamanya dulu.
Saat
sampai bangjo atau istilah kerennya traffic light kantor
kelurahan kauman, kubelokkan setang woyo ini ke kiri. Deg! Ada motor bebek
warna ijo milik TNI memepetku. Bapak yang di motor itu pun menyodorkan plastik
pink imut kepadaku. Secepatnya kuraih plastik itu dan mengucapkan matur
nuwun. Bapak itu pergi meninggalkan kebaikan yang telah ia perbuat layaknya
supermen. Atau betmen ya? Pokoknya super hero lah.
Matahari
mulai tenggelam. Suasana ini memang selalu dinanti-nanti oleh anak indie
sepertiku. Senja! Begitulah anak indie menyebutnya. Sayangnya kutak membawa hetset.
Seharusnya sembari menikmati senja, kudengarkan lagu indieku yang takkan
kusebutkan band dan judul lagunya di sini demi menjaga kemurnian band indie
yang kusuka.
Nah!
Kembali ke perjalanan. Beberapa detik sebelum perempatan terakhir sebelum sampai
rumah simbah, pemandangan mengenyuhkan terjadi. Kulihat dua sejoli di atas
motor bebek non subsidi. Si putri menampakkan dompetnya. Saat kusudah sampai di
lampu merah itu, ia menyodorkan kertas kecil berbentuk persegi panjang berwarna
biru kepada simbah tunawisma di pinggir jalan. Sungguh! Sepasang kekasih ini bak
Tony Stark dan Pepper Pots. Kan kunobatkan mereka berdua sebagai the most
inspire person of today (maaf kalau inggrisnya salah). Seperti bapak supermen
tadi, dua pahlawan ini langsung meninggalkan simbah tadi setelah lampu ijo
menyala.
Ini
tamparan keras buat diriku yang hanya menjadi penerima saja. Diri ini tersindir
secara halus melebihi gula yang kasar lalu dihaluskan dengan tumbukan. Kugenjot
sepeda keren ini dengan perasaan campur aduk layaknya es teh campur kolang-kaling.
Setelah sampai rumah simbah, kubuka plastik pink imut tadi. Plastiknya berisi
aqua dan roti gaes. Kuminum saja aqua ini dengan penuh kewoyoan. Btw
aqua itu benar-benar merk aqua ya, bukan merk lain.
Begitulah
perjalanan singkat seorang woyo ini. Proses membaca tanpa sebuah buku. Karena
membaca bukan hanya dari buku buku slur. Buktinya adalah perjalananku
ini. Jalanan kurasa lebih memuat banyak ilmu dibanding dengan buku. Kujadi
teringat kata-kata “Jalanan adalah Sekolah” atau “Alam Raya Sekolahku!” yang biasa
digaungkan oleh anak Punk. Akupun sepakat dengan itu.

Komentar
Posting Komentar