Epithumia, Tumos, dan Logistikon: Sebuah Refleksi Diri


Dewasa ini, kebahagiaan sering didefinisikan sebagai hal yang dianggap “penting” bagi diri sendiri tapi berada di luar kendalinya; banyak harta, rumah mewah, terkenal, post traveling keliling dunia di feed instagram, dan berbagai hasrat pribadi lainnya. Ini tak terlepas dari anggapan manusia modern yang mendefinisikan kebahagiaan harus berorientasi pada pemenuhan keinginan pribadi. Sedangkal itukah makna kebahagiaan?

Meski seorang muslim tahu bahwa kebahagiaan sejati ada di surga kelak, namun belum tentu ia tahu akan hakikat kebahagiaan di dunia ini. Menjadi manusia seutuhnyalah kebahagiaan bisa di dapat di dunia ini. Ada tiga prinsip dasar dalam diri yang merepresentasikan kehidupan manusia; Epithumia, Tumos, dan Logistikon. Platolah yang merumuskan tiga prinsip dasar ini sebagai sebuah refleksi bagaimana manusia bertindak.

Epithumia
Epithumia bisa disebut sebagai daya hewani yang dimiliki manusia. Makan, minum, seks, dan uang adalah sebagian dari epithumia ini. Sebagian hasrat yang menuntut manusia bertindak irasional ini memang berguna bagi keberlangsungan hidup, tapi jika manusia dalam hidupnya hanya mengejar epithumia, maka ia tidak akan menemukan arti kebahagiaan sesungguhnya. Jika digambarkan dalam tubuh, epithumia ini berada di perut ke bawah.

Tumos
Tumos berada di tengah-tengah antara epithumia dan logistikon. Ciri dari tumos adalah kebanggan akan diri, ingin dicintai, dipuja, dan berbagai hal yang ‘eksistensialis’ lainnya. Uang bukanlah segala-galanya bagi tumos, karena ada hal yang lebih berharga dari uang yaitu rasa dibanggakan, dicintai, atau diakui keberadaanya. Tumos juga bisa berarti ego yang bisa mengarahkan ke hal baik atau buruk, meski kadang berlaku irasional demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Karena tumos berada di tengah, maka bisa digambarkan berada diantara leher dan perut.

Logistikon
Peran penting dilakukan oleh logistikon, karena ia sebagai pengatur dari kedua fakultas di atas. Logistikon bisa disebut sebagai representasi dari -meminjam istilah dari pak shihab- manusia bernalar dan kritis atau bisa disebut dengan manusia sejati. Ia berada pada fakultas moralitas tertinggi dalam diri. Menurut Plato, pemimpin ideal adalah pemimpin yang sudah bisa menggunakan logistikonnya. Karena berada di paling atas, logistikon bisa digambarkan sebagai kepala dari manusia.

                                                                           .  .  .  .  .  .  .  . 

Dalam buku Pengantar Psikologi Umum karya Sarlito W. Sarwono halaman 169 juga disebutkan bahwa Teori Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud memandang kepribadian terdiri dari tiga komponen, yaitu Id (naluri), ego (kesadaran atau “aku”), dan superego (hati nurani). Interaksi antarketiga komponen itu terwujud dalam perilaku. Ini sama seperti yang dijelaskan oleh bapak Shihab dalam perkuliahan.

Ketika manusia bisa mengontrol diri dengan menggunakan logistikonnya, maka ia menjadi manusia seutuhnya. Definisi kebahagiaan tidak lagi mengacu pada orientasi luar kendalinya, tapi berorientasi pada diri sendiri. Kebahagiaan yang berasal dari diri sendirilah yang bisa disebut kebahagiaan sejati.

Simpulan
Pemenuhan kebutuhan hidup, eksistensi diri, dan bisa mengontrol diri dengan bernalar menjadi tiga komponen yang patut dijadikan refleksi diri. Sudah mampukah kita?


Tulisan di atas adalah UTS dari kuliah Filsafat Umum.
Sumber tulisan ini berasal dari salah satu materi perkuliahan online yang diberikan oleh bapak Syihabul Furqon, M.Ag dan beberapa referensi tambahan demi kelengkapan tulisan. Besar kemungkinan kekeliruan dari tulisan ini karena banyak interpretasi pribadi. Saya harap jika pembaca lebih tahu dan melihat ada kekeliruan tolong koreksi tulisan ini. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa