Drama Kuliah Online: Keluhan Mahasiswa dan Peran Dosen sebagai The Lord of Class

Pertengahan maret lalu diberlakukanlah kuliah online yang penuh drama ini. Peran dosen sebagai lord of class selalu menarik untuk dicerita.

Dosen menghilang entah ke mana menelantarkan anak didiknya, sedang mahasiswa #dirumahaja kebingungan mencari sosok panutan.

Ada lagi dosen yang hadir pada pertemuan pertama lalu memberikan wewenang diskusi dalam bentuk presentasi dan menyerahkan seluruh waktu kepada anak didiknya sehingga dapat lebih aktif dan kreatif memecahkan masalah sendiri, sungguh mulia!

Waktu yang seharusnya digunakan dosen untuk menjelaskan materi atau sekedar meluruskan jawaban, dengan besar hati diberikan ke anak didiknya secara cuma-cuma. Bingung jawab pertanyaan? Tinggal gugling, gitu aja kok repot. Soal kebenaran? masa bodo dengan itu! Yang penting diskusi lancar jaya dan laporan diskusi tinggal dikirim ke dosen. Praktis!

Tak gurih rasanya kalau drama tanpa adanya problematika, karena sejatinya drama penuh akan problematika di dalamnya. Begitu pula dalam kuliah online ini. Saya pribadi merasakan betapa kuliah ini bisa jadi sebuah sinetron menarik atau minimalnya jadi film pendek berkelaslah. Mulai dari susah sinyal, tiadanya laptop, kuota semakin hari semakin menipis, hingga media yang tak efektif menambah alur cerita semakin menarik.

Jika cerita di atas diresapi lebih dalam, sebenarnya bukan mahasiswa saja yang mengalami kesulitan ini di awal, ada beberapa dosen yang malah masih bingung dengan sistem perkuliahan online. Tak ingin ribet, ada dosen lain memberikan tugas sebagai ganti perkuliahan. Hehe, gampang ya.

Sebenarnya ini menyulitkan golongan mahasiswa baru. Disamping mata kuliah semester awal sangat penting sebagai dasar pijakan, seorang maba yang belum menemukan jati dirinya sekarang ini tertunda untuk merasakan hidup sebagai mahasiswa betulan. Ini akan menyulitkannya karena harus menerima kenyataan di semester depan dirinya sudah menjadi kating!

Tak terasa dua bulan berlalu, antara mahasiswa dan dosen sedikit demi sedikit sudah beradaptasi dengan keadaan ini. Pihak kampuspun memberikan suntikan semangat dengan berbagai cara ada yang berupa kuota, pulsa, ataupun surat edaran pengurangan UKT yang ternyata dibatalkan. Maaf cara yang terakhir agaknya bukan suntikan semangat, tapi suntikan harapan yang sirna.

Di tengah kondisi yang tidak menentu, kini perkuliahan online kemungkinan akan berlangsung sepanjang satu semester ini. Beberapa mahasiswa menyambut baik berita ini, alasannya sederhana: praktis. Buka hp- jawab salam sekaligus absen awal-menghilang entah kemana-absen akhir sekaligus jawab salam dan ucapan terima kasih; sesimpel itu.

Di sisi lain, mahasiswa menyayangkan keadaan ini dengan penuh kecemasan akan nilai yang didapat. Timbul keraguan akan keobjektifan dosen dalam memberi nilai di tengah keterbatasan yang ada.

Bagaimana cara dosen menilai mahasiswa saat perkuliahan online dirasa sangat tidak efektif dibanding tatap muka langsung?

Sayapun tertarik mengajukan pertanyaan ini ke salah satu portal tanya jawab ternama. Meski ini bakal menjadi sangat subjektif, tapi setidaknya bisa menjadi salah satu acuan bagi kita sebagai mahasiswa dalam memahami dosen. Beberapa dosen menanggapi dengan antusias. Setiap dosen ternyata memiliki perspektif tersendiri dalam hal menilai. Ada dosen yang menganggap tak ada bedanya kuliah online atau tatap muka dalam penilaian.

“Saya tak membedakan apakah menggunakan online atau tatap muka dalam penilaian. Online hanya tools untuk menyampaikan materi. Banyak cara dalam perkuliahan.”

Di akhir jawaban beliau menyatakan “Pendidikan bukan hanya soal nilai semata. Kedisiplinan, memberi kontribusi, aktif diskusi, mengerjakan tepat waktu dan masih banyak yang harus diajarkan kepada generasi muda.”

Ada juga yang sudah menetapkan persentase penilaian mahasiswa, baik ditetapkan oleh dosennya sendiri maupun oleh pihak kampus. Salah satu dosen menyayangkan kuliah online ini, “Banyak idealisme perkuliahan yang harus gugur saat pandemic covid-19 berlangsung. Saya harap wabah lekas berakhir agar kamipun tidak kesulitan memberikan nilai kepada mahasiswa.” Begitulah kalimat terakhir dari jawaban beliau.

Begitulah survey praktis yang saya lakukan. Semoga bisa memberikan gambaran bagi kita sebagai mahasiswa terkait nilai perkuliahan. Jadi, tidak perlu khawatirlah ya soal nilai, serahkan semua pada dosen kita, the lord of class.

Mahasiswa yang selalu dibangga-banggakan sebagai agen of change harusnya membawa perubahan yang keren di tengah pandemi ini, tapi sejenak untuk mengeluh sepertinya gapapa sih. Mengeluh secukupnya, kuliah seadanya, karena biasanya yang berlebihan itu tidak baik.

Setiap drama pasti memiliki hikmah yang bisa dipetik. Mari petik semua hikmah dan pamerkan ke anak cucu kita nanti.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa