Budaya Seorang Woyo Saat UN

Ujian Nasional selalu membawa cerita tersendiri bagi para manusia yang telah selesai dengannya. Banyak momen yang selalu bisa dicerita untuk dikenang. Hal itupun terjadi terhadap diri seorang woyo yang diam-diam menyimpan budaya saat UN.

Pada kesempatan kali ini, woyo akan mengungkapkan budaya UN yang penuh kewoyoan. Budaya yang selama ini selalu tersimpan di hati yang terdalam sedalam kolam renang dewasa yang diceburi oleh balita. Dan tentunya tersimpan di buku catatan masa kecil juga. Ini bukan soal persiapan menghadapi UN, tapi lebih ke hari per hari saat melaksanakan Ujian yang dahulu kala selalu membuat khawatir akan risiko tak lulus.

Budaya ini dimulai saat UN SMP. Kenapa tidak dimulai dari SD? Ya anda sekalian tahu sendirilah bagaimana bocah yang masih polos kepikiran untuk memulai sebuah budaya. Dikarenakan sudah tersimpan terlalu lama, woyo harus cari buku yang memuat budaya itu. Kenapa budayanya kok ada di buku? Karena budayanya berupa quote yang ditulis selepas mengerjakan soal UN dari hari ke hari. Itulah budayanya! Sangat biasa kan? Sayangnya anda sekalian sudah terlanjur baca hingga tulisan ini, maka nanggung kalau diskip. Mending simak quote woyo ini saja. Hehe.

Sekolah Menengah Pertama

4 Mei 2015

Hari pertama UN. Belajar dari UN bahasa Indonesia:

“Terkadang kita menggampangkan hidup kita, akan tetapi kita tidak memperdulikan yang akan terjadi sesudahnya. Dan penyesalanpun datang J.”

.

Anjay! Saya menyalin tulisan bocah SMP ini dengan penuh kebingungan L. Saya perlu waktu untuk memahami quote itu. Padahal ini tulisan saya sendiri. Semoga anda sekalian dapat langsung paham makna terdalam dari quote tersebut ya.


5 Mei 2015

Hari ke-2 UN. Belajar dari UN Matematika:

“Hidup ini memang rumit. Kita takkan bisa menebak apa yang belum kita lakukan. Maka dari itu, kita harus bersiap-siap dahulu sebelum hal itu terjadi J”.

.

Saya rasa maknanya bersesuaian dengan quote yang sebelumnya. Ya begitulah hirup. Hidup seperti Larry!


6 Mei 2015

Hari ke-3 UN. Belajar dari UN Bahasa Inggris:

“Ketika kita membuat sakit hati seseorang, itu akan membuat bekas di hatinya. Walaupun kita sudah meminta maaf kepadanya. Bekas itu akan tetap ada sampai waktupun akan menghapusnya J

.

Jelas sekali ini! Efek baru putus dengan seorang putri. Saya ingat betul! Kisah cinta monyet kandas beberapa waktu sebelum UN. Miris! Semoga si putri ini tidak membaca ini. Takutnya nanti gagal move on kan bahaya. Dianya lho, bukan saya. Kalau saya mah jangan ditanya :’v.


7 Mei 2015

Ternyata saya tak menulis quote untuk hari terakhir ini. Malahan di hari besoknya yaitu tanggal delapan mei, saya mengalami tabrakan motor. Lebih tepatnya saya menabrak motor yang hendak nyebrang. Dasar bocah SMP sok sok an bawa motor padahal belum punya SIM.


Madrasah Aliyah

1 April 2019

Belajar dari UN Bahasa Indonesia:

“Kehidupan memang tak dapat terlepas dari adanya sosialisasi. Bertegur sapa, saling sharing tentang informasi, bertukar pikiran, dan lain-lain. Belajar bersosialisasi memang terasa sulit tanpa adanya keberanian untuk memulai sebuah percakapan. Mereka yang mendalami ilmu ini pastinya mempunyai pengalaman yang banyak dan mereka mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebetulnya tidak harus fokus mendalami ilmu ini, tapi ilmu ini akan mengalir dengan sendirinya dalam  kehidupan kita, tergantung bagaimana cara kita mengembangkannya.”

.

Saat itu memang saya dalam kondisi krisis percaya diri. Merasa tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Dari kejadian inilah saya kemudian memutuskan untuk pergi ke Bali sendiri beberapa hari setelah UN.

 

2 April 2019

Belajar dari UN Matematika:

“Dalam hidup ini, terkadang Tuhan memberikan sesuatu yang tak bisa diduga sebelumnya. Baik atau buruk,  senang atau susah, gampang atau sulit takdir tersebut harus kita terima. Setidaknya kita mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum takdir itu datang. Memang, hidup bukanlah segalanya, tapi segalanya tidak ada apa-apanya tanpa hidup. Abaikan segala hal yang tak bisa kita kendalikan, dan mulai fokus terhadap apa yang bisa kita kendalikan. Jangan pernah berpikir untuk menyudahi apa yang sebenarnya belum selesai. Pelajari, dalami, dan selesaikanlah!”

.

Qoute ini terinspirasi dari tulisan resensi buku Filosofi Teras karya OM Piring di koran Kompas. Saya jadi teringat perjuangan untuk baca koran tiap hari saat itu agak susah. Bayangkan! Satu koran untuk satu asrama. Harus menghadang pak kurir sejak setelah subuh kalau tak ingin ada saingan baca, harus menunggu gantian saat ramai, saat membaca pun terganggu sebab sudah ditunggu oleh yang lain. Penuh perjuangan! *maaf hiperbolanya terlalu ya, namanya juga hiperbola kok.

 

4 April 2019

Belajar dari UN Bahasa Inggris:

“Kesulitan memang bisa datang setiap waktu, termasuk juga saat di mana kita menganggapnya bisa melewatinya. Entah itu datang atau tidak, kita hanya bisa bersiap. Dianggap ‘bisa’ oleh orang lain bukan malah menjadikan kita menggampangkannya, justru semestinya kita sadar kita itu masih jauh untuk dikatakan bisa dan memantaskan diri untuk bisa sesuai dengan apa yang mereka anggapkan. Percayai kemampuan diri sendiri, kembangakan dan buktikan ke semua orang bahwa kita layak bersanding dengan mereka.”

.

Dikenal sebagai seorang yang ‘bisa’ saat itu membuat saya kehilangan percaya diri. Quote di atas sebenarnya menyindir saya pribadi dan memotivasi diri untuk bisa menunjukkan bahwa saya benar-benar bisa. Semoga ya.

 

8 April 2019

Dan terjadi lagi, sama seperti saat SMP. Di hari terakhir saya tidak menulis qoute. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah hari terakhir adalah hari yang tak butuh quote karena sudah mencapai kata 'terakhir'? Mbuhlah.

 

Nah, begitulah budaya seorang woyo ini. Bagi anda sekalian yang benar-benar membaca hingga akhir tulisan ini, saya sangat berterima kasih. Hehe. Semangat-semangat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa