Momen Ramadan: Tak Ada Selain di Krapyak



Ini kali pertama saya mengawali awal Ramadan di rumah setelah empat tahun lamanya. Memang empat tahun belum terlalu lama, tapi momen yang membuat itu seakan lama sekali. Asekkk :v. Banyak hal yang mungkin tak bisa saya temukan selain di Krapyak dan ada beberapa momen yang tak bisa diulangi lagi. Serius. Semoga sodara sekalian yang bukan alumni Krapyak tapi membaca ini bisa menikmati, minimal bisa membayangkannyalah ya.

Kosa Kata:
Bandongan: Ngaji kitab dengan metode ceramah dari seorang guru.
Megoni: Mengartikan teks arab dengan arab gundul jawa.
Ihya: Nama kawan spesialis pembuat sambal trasi spesial.
Komplek N: Salah satu komplek putri di Yayasan Ali Maksum.
Masjid: Masjid Al-Munawwir
Aula AB: aula di samping masjid Al-Munawwir.
Satir: Triplek pembatas antara laki-laki dan perempuan saat ngaji.

Sahur 
  • Jam dua pagi sudah ada yang ngantri di tempat catering padahal catering belum tersedia di tempat (mbuh iki wong memang saking semangate po ya, tapi memang kemungkinan kehabisan sangat besar sih, tapi yo ora jam loro juga!) 
  • Suasana antrian yang tak kondusif; anak Aliyah yang nyerobot antrian dengan nampan besarnya dan anak Mts yang mengalah dengan terpaksa.
  • Adanya Teh dan Susu saat sahur membuat tambahan antrian dan beberapa menit saja sudah ludes habis tinggal menyisakan duka bagi yang baru bangun dan membawa botol.
  • Pukul tiga, menyisakan nasi tak terseleksi dan lauk yang hanya kuah.
  • Makan sahur bareng menggunakan nampan dengan penuh cinta.
  • Saat seruan sahur berkumandang dari masjid, secara serentak dijawab dengan kata acak. (mbengak-mbengok ra jelas)

Subuh
  • Jama’ah di Masjid dengan niat sekalian bandongan, tapi setelah salat malah tidur di tengah bandongan. Bangun-bangun masjid sudah kosong.

Pagi Hari
  • Sekolah full libur, diganti dengan full ngaji.
  • Bandongan empat kitab hingga menjelang dhuhur di ruangan Mts. (cuci muka-berangkat-megoni beberapa detik-tertidur-ngiler di meja-bangun saat ganti kitab-kembali tidur setelah megoni beberapa detik)

Siang Hari
  • Waktu istirahat. Kadang bisa full tidur hingga menjelang berbuka.

Sore Hari
  • Bandogan jam empat sore. Kesempatan bagus mengais ilmu setelah seharian tidur.
  • Jl. KH Ali Maksum berubah menjadi pasar jajanan. Waktu yang tepat untuk menunjukkan eksitensi diri dengan dalil mencari lauk.
  • Jam lima, antrian di tempat catering mulai mengular seperti cacing di aplikasi. Haha, ga lucu.

Buka Puasa
  • Everyday is bukber day with nampan pastinya.
  • Nyambel terasi khas Ihya’ tak pernah terlupa.
  • Baru mandi setelah buka dan maghriban.

Tarawih
  • Banyak pilihan jama’ah tarawih sesuai kecepatan. Semua ada; cepat (asrama), standar (aula AB), lama (masjid). Tinggal pilih.

Malam Hari
  • Bandongan dua kitab dimulai pukul 21.00 WIB hingga sekitar pukul 23.00 WIB di Musholla komplek N.
  • Kesempatan berkomunikasi melalui satir dengan secarik kertas bertuliskan kata-kata.

Begitulah segelintir kisah yang tak bisa terlupa dan takkan bisa ditemukan di tempat lain. Karena saya menuliskannya dengan kesusu, mungkin ada hal yang saya lupa. Jika diantara sodara sekalian ingat momen-momen lain yang belum tercantum, bisa langsung pc saya saja, gak usah kesuen.

Sayangnya di tahun ini karena wabah tengah melanda, ada sebagian momen yang tak bisa dirasakan di sana. Hikmahnya, pasti ada momen baru yang tak kalah woyo untuk disyukuri. Semangat-semangat!

NB: Foto per momen nyusul ya, cari dulu :v

Komentar

  1. Dari ketiga tulisanmu ini yang paling woyo buat ketawa sih dzur wkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Woyo, Semangat-semangat, dan Ben Ketok Ngeri: Sejarah dan Esensi yang Dibawa

Kata dan Rasa