Di Balik Nama Tamasya Kehidupan
Setiap
segala sesuatu tak terlepas dari iringan makna. Baik buruk kejadian selalu
membawa kita ke sebuah simpulan, apa makna di balik peristiwa ini?
Kata Tamasya Kehidupan merupakan
terjemahan dari bahasa arab; نُزْهَةُ الْحَيَاةِ . Sesuai dengan
nama domain blog ini. Berawal dari ketidaksengajaan mendengar nama kitab Nuzhatul Muttaqin syarah kitab Riyadlus Shalihin, saya penasaran dengan arti dari
nama kitab tersebut. Lantas saya cari saja kata Nuzhah di kamus Al-Munawwir tercinta,
ternyata artinya tamasya! lalu saya tambahkan kata hayah saja, dan jadilah Nuzhatul
Hayah: Tamasya Kehidupan. Iya, sesepele itu. Alasan paling utamanya sih tetap
ben ketok ngeri! Saat tahu bahwa kata nuzhah berarti tamasya, menjadikan saya
langsung jatuh hati saat pertama kali mendengarnya.
Nama ini pertama kali dipakai dalam
buku catatan kecil mengenai quotes PKR (Program Kegiatan Ramadan) 1438 H. Menjadikan
saya tak bisa lepas dari bayang-bayang kata yang begitu memesona ini. Sebagai
bentuk kecintaan saya, akhirnya dipilihlah kata ini sebagai nama utama dalam
domain dan Tamasya Kehidupan sebagai nama blog suka-suka ini.
Proses kehidupan di dunia ini layak
kita nikmatin sod, bagai sebuah tamasya; bersuka ria. Saat pingin bertamasya ke
suatu tempat nih, mayoritas dari kita selalu berekspektasi bakal dapet
kesenangan dan mengabaikan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Tak bisa kita
pungkiri hal seremeh lupa bawa boneka doraemon kesayangan hingga hal yang vital
seperti tertidur saat sudah di tempat tujuan dan tak bisa menikmati sedikitpun.
Tapi apakah setelah tamasya kita bakal sedih terus? Gabakal kan? Begitu pula
dalam menyikapi masalah kehidupan yang lebih berat –bahasa kerennya kompleks.
Tamasya kehidupan mengajarkan bahwa
hidup kita penuh dengan arti, dan kita berhak bahagia, bersuka cita semaunya
meski masalah muncul silih berganti, itu takkan membuat kita tidak berhak untuk
bahagia. Toh kehidupan kita sudah diatur oleh yang Maha Kuasa yang lebih tahu
diri kita melebihi siapapun termasuk diri kita sendiri. Kebahagiaan hanya bisa
kita raih dengan cara mensyukurinya. Apapun yang terjadi tetaplah hidup! Karena
Mbah Seneca; filsuf yunani yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh ini berpesan:
Sometimes,
even to live is an act of courage.
Terkadang,
hidup itu sendiri merupakan sebuah perbuatan keberanian.
Mungkin di zaman ini semua bacodan
di atas tak memberikan pengaruh apapun, Tapi yaa terserah sayalah, blog
suka-suka saya kok! :v. Karena memang sayanya saja yang ga bisa bikin puisi
atau cerita menarik dengan bahasa tinggi nan menyentuh, jadinya seadanya
sajalah.
Saya jadi teringat salah satu dawuh
Abah Zaky saat ngaji Tafsir Jalalain dulu: Boleh bercita-cita setinggi
apapun, tapi ingat ajal! Nah loh, mau gimana coba? Silakan pikir sendiri :v

Komentar
Posting Komentar